Momentum Hari Ibu:“Memperhatikan Lagi Angka Kematian Ibu di Indonesia”

Oleh : pada 14 February 2011

“Memperhatikan Lagi Angka Kematian Ibu di Indonesia

Oleh : Dr. Imran Pambudi

Setiap tahun kita memperingati Hari Ibu, sosok yang menempati posisi mulia di hati setiap insan manusia, karena tidak ada seorangpun di dunia ini terlahir tanpa pernah melewati masa kehidupan dalam rahim seorang ibu. Momentum hari Ibu lebih dari sekedar hubungan inter personal antara seorang anak dan ibunya, tetapi juga bagaimana kita bisa bersikap memuliakan “ibu-ibu” lain yang sedang mempertaruhkan hidupnya demi kelangsungan generasi bangsa.  Derajat kesehatan ibu di Indonesia memang membaik apabila dilihat dari Angka Kematian Ibu yang terus menurun, dari 307/100.000 kelahiran hidup pada SDKI 2003 menjadi 228/100.000 kelahiran hidup pada SDKI 2007. Akan tetapi hasil ini adalah hasil nasional karena apabila dicermati terdapat kesenjangan yang cukup besar antar daerah di Indonesia, tercermin dari prosentase Persalinan oleh Tenaga Kesehatan Terampil yang merupakan indikator proksi paling sensitif dari kematian ibu, karena berdasar hasil penelitian di berbagai negara, terdapat korelasi yang erat antara persalinan oleh tenaga kesehatan dengan angka kematian ibu. Menurut data yang dihimpun dari laporan Dinas Kesehatan Provinsi pada tahun 2008, rata-rata nasional persalinan oleh nakes mencapai 80,73 %, paling rendah terdapat di Provinsi Papua yang hanya mencapai 29,63 % sedangkan tertinggi ada di Provinsi Bali yang sudah mencapai 97,61 %.

Sederet persoalan kita temui apabila kita ingin menurunkan kematian ibu, mulai dari penyebab langsung berupa penyulit kehamilan dan persalinan yang terjadi, antara lain : perdarahan dan hipertensi dalam kehamilan yang menjadi penyebab sekitar 60 % kematian ibu. Kondisi  ini lebih diperparah dengan kondisi yang  sering disebut dengan 3 terlambat: terlambat mendeteksi tanda bahaya dan mengambil keputusan, terlambat sampai di tempat pelayanan kesehatan serta terlambat mendapatkan pertolongan yang adekuat. Penyebab tidak langsung lainnya adalah masih banyaknya ibu yang mempunyai “status” 4 terlalu: terlalu tua, terlalu muda, terlalu banyak, dan terlalu rapat jarak melahirkan.

Dari manakah kita mulai? Apakah kita fokus kepada perbaikan sarana dan mutu pelayanan kesehatan atau peningkatan pengetahuan masyarakat? Dari sebuah kajian pada uji coba Confidential Enquiry into Maternal Death (CEMD)  yang dilakukan oleh Direktorat Bina Kesehatan Ibu Depkes RI bersama tim yang dimotori oleh dr. Asri A, PhD serta dr. Baharuddin, SpOG terhadap 29 kasus kematian ibu yang terjadi di DKI Jaya dan Nusa Tenggara Barat pada kurun waktu  Maret 2008 – Februari 2009, ditemukan bahwa kemampuan petugas kesehatan untuk mengenali masalah perlu ditingkatkan karena kelemahan penilaian awal akan memicu kegagalan pada proses-proses selanjutnya untuk tata laksana kasus terhadap suatu kasus.

Masalah Jakarta NTB
Penilaian awal 50% 82%
Identifikasi masalah 72,2% 82%
Rencana tatalaksana 83,3% 100%
Monitoring 1,1% 45%

Akses terhadap ketersediaan darah dan ICU ternyata merupakan masalah bagi kasus-kasus kematian yang terjadi di NTB dan bahkan di Jakarta yang mempunyai segala macam sarana kesehatan canggih. Terlihat bahwa akses yang berakar dari pengetahuan ibu dan keluarganya di Jakarta tidak terlalu bermasalah dibandingkan dengan keadaan di NTB. Akses berdasarkan masalah transportasi masih merupakan kendala baik di Jakarta maupun di NTB. Berbeda dengan kondisi di NTB dimana transportasi sulit didapatkan untuk daerah yang terpencil, masalah transportasi di Jakarta lebih disebabkan oleh karena kemacetan lalu-lintas (salah seorang kasus memerlukan waktu selama 90 menit untuk menempuh jarak 1,5 km pada pagi hari di Jakarta).

Akses Jakarta NTB
Pengetahuan 15% tidak baik 55,56% tidak baik
Transport 25% bermasalah 50% bermasalah
Darah dan ICU Bermasalah Bermasalah

Sejak tahun 2000, WHO telah memperkenalkan Strategi Making Pregnancy Safer untuk mempercepat penurunan angka kematian ibu di dunia agar goal MDG dapat tercapai pada tahun 2015 dengan 3 pesan kuncinya yaitu : Semua persalinan harus ditolong oleh tenaga kesehatan terampil, semua komplikasi obstetri dan bayi baru lahir ditangani secara adekuat dan semua wanita usia subur mempunyai akses terhadap pencegahan kehamilan dan komplikasi paska keguguran. 3 pesan kunci ini sangat sederhana dan dapat disampaikan bukan hanya oleh sektor kesehatan, misalnya sektor pendidikan dan agama harus memberikan informasi yang cukup kepada para remaja putri dan calon pengantin tentang pentingnya bersalin ke petugas kesehatan dan apa saja tanda bahaya kehamilan dan persalinan yang telah termuat dalam Buku KIA. Sektor perhubungan dapat memberikan kontribusi dengan memastikan adanya sarana transportasi yang dapat digunakan apabila ada seorang ibu hamil yang memerlukan rujukan segera, sektor pekerjaan umum memastikan bahwa rumah yang dihuni oleh bidan desa dan puskesmas layak untuk dihuni sehingga masyarakat desa dapat terlayani dengan baik karena mereka betah tinggal di desa.

Bagaimana kenyataan yang ada ? Untuk melayani 5,3 juta ibu hamil pada tahun 2008 tersedia 81.500 Bidan, bandingkan dengan jumlah dukun yang mencapai 98.500 orang.  Dari sekitar 82.000 desa di seluruh Indonesia, baru 53.000  desa yang ada bidan desanya itupun kebanyakan bukan di daerah terpencil serta hanya 41.000  bidan desa yang tinggal di desa dengan berbagai sebab, artinya akses ibu hamil dan bersalin khususnya di daerah terpencil untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang berkualitas masih cukup sulit, sebagian dari mereka masih mengandalkan dukun sebagai penolong persalinan mereka. Apakah dukun mampu menolong persalinan? Mungkin iya, karena persalinan adalah proses alamiah yang terjadi, tetapi akan sangat riskan apabila terjadi penyulit pada saat proses persalinan yang bisa menimpa ibu dan bayi karena secara statistik 20 % persalinan akan mengalami penyulit dan dukun tidak dipersiapkan untuk mengatasi itu.

Diperlukan kepemimpinan yang kuat untuk membangun komitmen yang jelas bagi dukungan penurunan kematian ibu, kematian ibu jangan hanya dipakai sebagai justifikasi untuk “meminta” tambahan anggaran atau terbentuknya suatu organisasi/ badan baru yang kemudian tidak jelas kegiatan dan penggunaan anggarannya. Coba kita bayangkan apabila ibu, anak atau kerabat kita yang mengalami penyulit dalam persalinan tidak mendapat penanganan yang optimal, apakah kita rela? Oleh sebab itu seperti kata pepatah, kalau bukan kita yang berubah, lalu siapa? Kalau bukan sekarang, lalu kapan?

Selamat hari ibu, dan semoga kita bisa terus mengupayakan keselamatan ibu-ibu di lingkungan kita dengan kemampuan yang ada pada diri kita masing-masing.


Kategori : Uncategorized

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Pencarian

Aplikasi

BOK

Dokumentasi Kegiatan

Link to Dokumentasi KegiatanLink to Dokumentasi KegiatanLink to Dokumentasi KegiatanLink to Dokumentasi KegiatanLink to Dokumentasi KegiatanLink to Dokumentasi KegiatanLink to Dokumentasi KegiatanLink to Dokumentasi KegiatanLink to Dokumentasi KegiatanLink to Dokumentasi Kegiatan

Referensi

Jumlah Pengunjung

Ganti ke versi mobile