CFC Penatalaksanaan Gizi Buruk di Masyarakat

Oleh : pada 14 February 2011

Kasus anak yang ditelantarkan bahkan ditinggalkan orang tuanya, karena kemiskinan atau ketidakmampuan orangtua dalam memberikan nafkah anak merupakan salah satu faktor terjadinya kurang gizi dan gizi buruk pada balita. Keadaan ini masih menjadi persoalan yang sering mencuat di media televisi dan koran.

Keadaan Gizi

Sampai saat ini 76,4 juta penduduk Indonesia tergolong miskin dan hampir miskin, serta tinggal di daerah yang sulit dijangkau. Menurut Susenas tahun 2005 angka prevalensi gizi kurang  anak balita  28%, dan  di antara angka tersebut  8,8 % menderita gizi buruk.

Pada tahun 2008 dari hasil Riskesdas angka tersebut berkurang menjadi 13,0 %. Walau prevalensi gizi kurang  menurun namun anak yang stunting ( pendek) masih cukup tinggi 36,8% yang berarti pernah menderita kekurangan gizi.  Sedangkan Prevalensi gizi buruk  5,4 %.

Keterangan lebih lanjut diperkirakan masih ada yang tidak terlaporkan (under reported), wajarlah bila kerap terdapat pemberitaan adanya kasus gizi buruk disana – sini.

Penyebab Gizi Buruk

Kasus gizi buruk dapat disebabkan oleh asupan makanan anak yang kurang sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan gizi untuk melakukan aktivitas dan berkembang. Hal ini dapat terjadi karena pola asuh yang salah, seperti ibu yang sibuk bekerja di hutan/ladang sehingga anak  tidak terawat (biasa terjadi di pedesaan). Keadaan ini diperberat dengan kebiasaan seperti  memberikan makanan padat sebelum usia 6 bulan dan kadang tidak hygienis.

Gizi buruk sangat berhubungan dengan penyakit infeksi, hal ini dapat digambarkan seperti telur dan ayam. Mana yang lebih dulu terjadi tidaklah perlu dipersoalkan, yang terpenting adalah segera menanggulangi keadaan tersebut. Cara termudah untuk mendeteksi status gizi di masyarakat dapat dilakukan melalui penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan di Posyandu.

Status gizi balita dipantau dengan KMS yang saat ini sudah diperbaharui dengan membedakan antara KMS untuk anak perempuan dan anak laki-laki. Tidak hanya status gizi yang dapat dilihat pada grafik/alur  di KMS  tetapi pertambahan berat badan setiap bulan yang harus dipenuhi bisa menjadi patokan bagi orang tua, keluarga dan kader serta petugas kesehatan.

Banyak orang tua, pemangku kepentingan kurang menyadari bahwa dengan memperhatikan gizi anak sejak dalam kandungan adalah investasi luar biasa bagi kepandaian anak bangsa. Usia balita adalah masa emas yang tidak akan berulang dalam kehidupan manusia. Pertumbuhan sel otak terjadi sangat dominan pada masa tersebut, oleh karenanya perlu upaya dalam menanggulangi keadaan gizi buruk ini secara bersama.

Sifat gotong royong yang ada pada masyarakat perlu ditumbuhkan kembali. Tidak terbatas pada masyarakat saja, tetapi kepedulian dari sektor swasta dan pemerintah daerah secara terpadu diharapkan dapat menekan prevalensi gizi buruk.

Potensi yang ada di masyarakat serta hasil bumi baik dari laut maupun daratan dapat menjadi  sumber gizi yang baik apabila dikelola secara seksama. Pemanfaatan pekarangan disekitar rumah menjadi lahan produktif, lingkungan sekitar rumah bersih dan asri, penyediaan air bersih. Sarana prasana seperti jalan penghubung untuk membuka keterisolasian daerah adalah faktor pendukung tidak langsung untuk memperbaiki status gizi balita. Hal ini pastinya akan mendatangkan keuntungan bagi kesehatan anak-anak balita.

Selain itu, bagaimana cara merawat balita agar tidak mudah sakit, menyediakan makanan sehat dengan gizi yang seimbang dan pemantauan tumbuh kembang balita, dapat diperoleh dengan berbagai cara. Yang paling sederhana adalah berkonsultasi pada petugas gizi dan kesehatan  yang berada di Poskesdes, Pustu, dan Puskesmas

Balita gizi buruk dapat diketahui dengan cepat bila secara rutin menimbang berat badannya ke Posyandu. Apabila 2 kali berut-turut berat badan tidak naik, orang tua dan kader serta petugas kesehatan sudah harus mencurigai keadaan kesehatannya. Yang menjadi permaslahan adalah masih banyaknya anak balita yang tidak datang ke posyandu secara rutin (D/S) untuk menimbang berat badannya.

D= jumlah balita yang datang ke posyandu menimbangkan BB;
S = jumlah seluruh balita di wilayah tertentu.

Deteksi juga bisa dilakukan melalui survey, dan diharapkan masyarakat setempat secara sederhana dapat melakukan survey. Diawali dari kelompok dasa wisma (keluarga persepuluhan) yang pernah dikembangkan di tahun 1985-an, di tingkat RT lebih luas lagi, di RW /dusun dan seterusnya. Survey dapat dilakukan oleh kader yang telah dilatih untuk mengetahui bagaimana tanda-tanda anak gizi buruk dan anak yang sakit dicatat pada format  berikut :
Lihat format desa siaga lampiran .

Pemulihan Gizi di Masyarakat

Daerah yang bisa dijadikan contoh mekanisme penemuan gizi buruk sampai dengan pemulihan di masyarakat, adalah Kab Gorontalo, Boalemo, Kab Belu, Kab Sambas. Kader atau siapapun yang dapat mengidentifikasi gizi buruk segera melaporkan ke poskesdes dan selanjutnya dikirim ke Puskesmas/RS.

Setelah berada di tempat pelayanan kesehatan, status gizi anak ditentukan telebih dahulu dan perlu dicek apakah anak balita tersebut menderita penyakit infeksi atau tanda bahaya seperti syok, kuning pada kulit dan mata, sesak nafas, suhu tinggi, edema atau perubahan kondisi mental. Balita dengan penyakit infeksi dan adanya tanda bahaya biasanya perlu dirawat di RS sampai sembuh. Pada keadaan ini tidak secara otomatis status gizinya normal, anak balita ini masih memerlukan perawatan tahap demi tahap di puskesmas. Puskesmasnyapun yang telah menyediakan perawatan penderita gizi buruk atau disebut Pusat Pemulihan Gizi dalam bahasa Inggris dikenal dengan Therapeutic Feeding Center  (TFC) .

Pusat Pemulihan Gizi berfungsi sebagai tempat perawatan dan pengobatan anak gizi buruk secara intensif di suatu tempat/ ruangan khusus dan ibu/ keluarga ikut aktif terlibat dalam perawatan anak gizi buruk. (Catt diberi lingkaran)

PPG dapat dikembangkan dengan kegiatan pelayanan gizi lainnya yang tidak terbatas pada pelayanan anak gizi buruk. Penyelenggaraan PPG dapat memanfaatkan fasilitas bangunan yang sudah ada di puskesmas perawatan/ rumah sakit atau membuat bangunan khusus/ baru.

SYARAT PEMBENTUKAN

PPG dapat dibentuk bila dalam satu wilayah kecamatan memenuhi kriteria sebagai berikut:

  1. Global Acute Malnutrition (GAM) atau Prevalensi gizi kurang akut > 20%
  2. GAM/ Prevalensi gizi kurang akut antara 10-19,9% dengan faktor penyulit seperti adanya bencana baik alam maupun non alam.

Biasanya anak balita dengan gizi buruk dirawat di tempat ini antara 2-3 bulan. Waktu ini dimanfaatkan untuk wahana pendidikan bagi ibu balita. Disini ibu balitapun menginap sambil bagaimana merawat anak balitanya, cara memasak dengan pemberian makanan mengandung tinggi kalori dan protein dengan aneka bahan makanan setempat sehingga kekurangan BB terpenuhi dan dapat meningkatkan tinggi badan.

Dalam pemantauan selama masa perawatan di   TFC dinyatakan sembuh, anak dikembalikan dalam keluarga untuk dilanjutkan pemulihan status gizinya sehingga  tidak kembali jatuh ke keadaan semula.

Konsep pembentukan Pos Pemulihan Gizi atau Community Feeding Center (CTC) adalah upaya masyarakat untuk  memantau atau merawat anak balita. Rujukan balik dari Puskesmas agar status gizinya tetap normal.  Pos Gizi  ini merupakan salah satu  kegiatan pengembangan Posyandu (Posyandu Plus).

Idealnya bila diketahui penyebab utama dari adanya balita gizi buruk kelompok masyarakat secara bersama bergotong royong menekan penyebab masalah gizi. Masyarakat diharapkan dapat memobilisasi kemampuan yang ada disekitarnya untuk penanggulangan Gizi Buruk . Bila terjadi karena factor kemiskinan keluarga yang mampu bisa menjadi orang tua asuh, mencari peluang kerja untuk orang tuanya. Berbagai sector pemerintahan dengan berbagai program dalam pengentasan kemiskinan dan pembangunan bisa  dipadukan.

Jumlah Pos Pemulihan Gizi ini masih terbatas jumlahnya bila dapat dikembangkan lebih banyak lagi di daerah diharapkan punya daya ungkit pada status gizi balita. ▄(Andewi – Setditjen)


Kategori : Uncategorized

39 tanggapan pada “CFC Penatalaksanaan Gizi Buruk di Masyarakat

  • cipot

    penanganan gizi buruk neh

  • astri

    saya mau tanya dari masalah gizi antara anemia, KEP,KVA, dan GAKY, prevalensinya yg paling tingggi yang mana?dan saya mau data prevalensinya dari semuanya. makasih

    • Dit.Bina Gizi

      Terimakasih atas pertanyaannya. Indonesia seperti negara Asia lainnya memang masih mempunyai masalah gizi yaitu KEP, KVA, Anemia dan GAKY. Besarannya untuk Anemia, dari studi masalah gizi mikro di 10 propinsi tahun 2006 masih dijumpai 26,3% balita yg menderita anemia, Ibu hamil 40,1%. Oleh karenanya upaya pemberian tablet besia terhadap bumil tetap digencarkan. Kurang vitamin A (Xeropthalmia) 0,13%. Untuk mencegahnya setiap bulan Februari –Agustus (bulan Vitamin A) diberikan Kapsul Vitamin A untuk balita dengan dosis tertentu. Indikator masalah GAKY saat ini adalah Eksresi Yodium dalam Urine (EYU) Bila penduduk dengan EYU<100 ug/L dibawah 20% dan cakupan garam beryodium 90%, maka dianggap masalah GAKY di masyarakat tersebut sudah bisa terkendali. Hasil studi Intensifikasi Penanggulangan GAKY dan Riset Kesehatan Dasar 2007 mendapatkan hasil yang konsisten yaitu sekitar 20% masih dibawah 100 ug/L. Hanya cakupan garam beryodium dibeberapa propinsi masih ada yang dibawah 90%. Untuk prevalensi gizi kurang di Indonesia 18,4%, pendek 36,8%, kurus 13,6% dan gemuk 12,2%. Jadi kalau dilihat presentasi keadaan gizi. Masalah kegemukan di Indonesia sudah harus diperhatikan. Bagaimana dengan Anda?

  • sirajuddin

    Faktanya TFC dan variannya memang baik.Tapi tolong diingat makanan yang diberikan harus dari keluarga sendiri bukan bantuan dari sponsor atau depkes sekalipun. Tidak boleh ada ketergantungan didalamnya . Kerangka fikir pragmatisme meruntuhkan semuanya. Contoh MP-ASI (lokal dan komersial) gagal memberdayakan masyarakat. Bahkan urusannya tambah rumit, karena kalau sekarang tidak ada lagi paket pemberian makanan di Posyandu masyarakat tdk mau lagi datang. Sekarang Taburia menjadi idola. Apa ini model pemberdayaan?????. Ini semua model anti pemberdayaan. Anehnya lagi banyak kalangan memuji pendekatan ini. Masalah gizi tidak dapat diatasi dengan uang saja, tapi diatasi uang, waktu dan ilmu pengetahuan.

    • Administrator

      Setuju dengan pendapat Sdr. Sirajuddin, Waktu dan Ilmu pengetahuan memang penting. Tolong bantu kami untuk merubah prlaku masyarakat antara lain berperilaku Sadar – Gizi seperti (1)menimbang berat badan setiap bulan bagi balitanya khususnya bahkan kita sebagai manusia dewasa, sehingga dengan berperilaku tesebut kita bisa tahu kondisi kita atau anak kita bagaimana keadaan gizinya. Apakah sesuai umur dengan berat badannya.? (2) makan beraneka ragam – Jangan tiap hari Indomie (3) Gunakan garam beryodium dalam memasak (sarankan pada teman, saudara dan keluarga yang lainnya) (4) biasakan sarapan pagi (5) dan sebagainya. Ingat !!!! Kesehatan bukan hanya tugas orang kesehatan. Tugas kita bersama. Konsep TFC – adalah Pusat Pemulihan Gizi, Selain petugas, kita minta ibu balitanya turut berpartisipasi aktif membantu masak, membersihkan kamar dsb. Bahkan ibu balita akan diajarkan oleh petugas bagaimana cara membuat Formula yang bahannya dari Susu, gula minyak dan campuran mineral mix. Tetap harus ada bantuan dari kesehatan terkait vitamin atau mineralnya (misalnya vitamin A, Mineral mix dan obat-obat yang lainnya.

      • Yuni Listyorini

        Maaf… bukannya indikator kadarzi itu yang kelima berkaitan dengan minum suplemen gizi…. ato mungkin saya yang salah. untuk gizi buruk di tempat saya hampir 90% dikarenakan adanya penyakit penyerta dan riwayat BBLR.Penanganan terhadap gizi buruk perlu adanya keterkaiatan berbgai pihak…. yang paling penting menurut saya adalah penyadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan. dan ini adalah tugas tersulit bagi qt semua…. Makasih

      • Um_Ib

        ilmu tentang bagaimana cara pengolahan bahan makanan itu juga sangat penting, karena banyak proses pembuatan makanan atau pun campurannya yang dapat menyebabkan berkurangnya kandungan gizi atau bahkan hilangnya zat penting yang ada salam makanan tersebut

  • sri setyo

    Yang perlu diperhatikan dan yang terpenting untuk melaksanakan kegiatan TFC/PPG adalah memberikan motivasi kepada orangtua dari balita tersebut, sebenarnya mengenai TFC/CFC dalam penanganan Balita Gizi Buruk sangat baik, kami di puskesmas jenangan mempunyai balita gizi buruk sebanyak 14 anak, berawal dr bantuan tim penggerak PKK Kabupaten, PPG ( kami mengatakan Kelas Gizi )kami bentuk dengan anggota 14 anak itu tempat dipuskesmas,pelaksanaannya tiap 2 minggu sekali ( balita yang mengalami Gizi Buruk dengan indikatornya BB/U), alhamdulillah ada manfaatnya. ada anak yang tidak mau susu akhirnya mau, dari yang sama sekali tidak mau makan akhirnya makannya sedikit2 (ngemil). walaupun dalam 1 bulan utk kenaikan BB masih minim tapi perubahan perilaku oleh ibu balita utk lebih telaten alhamdulillah bisa dilaksanakan. Kondisi cuaca juga bisa mempengaruhi kondisi anak, dalam 1 bulan mslnya musim panas, batuk, pilek akhirnya anak2 kena, dan itu yang menjadi salah satu alasan tidak ada kenaikan BB. Mungkin kami mohon bisa didrop vitamin yang baik untuk anak, soalnya yang selama ini diberikan berupa makanan jadi ( susu dan MP-ASI ) kadang2 anak tidak menyukainya, tapi kami sebagai petugas gizi tetap memberikan motivasi kalau bantuan tersebut sangat bagus untuk anak2.Intinya mohon kepada depkes tidak hanya memberikan bantuan berupa makanan jadi tapi Vitamin yang bagus juga sangat diperlukan.

    • Dit.Bina Gizi

      Setuju dengan pendapat Sdr Sri Setyo.

      Selamat bertugas!!!!

      • sri setyo

        kebetulan saya barusan mengikuti pelatihan menjadi konselor menyusui, memang di masyarakat itu sangat kompleks, tentang menyusui kepada bayinya kadang hanya dipandang sebelah mata : ada yang di kop baru diberikan ke bayinya pake botol, bahkan ada yang berpendapat menyusui itu ribet, ga modern akhir artinya dibelikan susu yang paling mahal soale jaga gengsi, klo sudah melahirkan merasa asinya kurang langsung saja diberi susu formula, la itu juga sdh tersedia di sakunya para bidan yang menangani persalinannya, padahal sekarang banyak dari hasil penimbangan bulanan di posyandu kami ditemukan masih bayi usia antara 0-12 bulan katanya juga disusui la kenapa hasil tren di KMS kok menuju ke BGM kan aneh to, klo berdasarkan teori seharusnya pada usia itu untuk mencapai kenaikan BB sangat bisa didapat dengan cara menyusui,saya pribadi selaku petugas gizi sangat prihatin pernah saya sharing dg kapus kata beliau disuruh melihat tentang kontrasepsi yang digunakan ibu apa, yang ingin saya tanyakan apa sebaiknya langkah2 yang harus saya lakukan ???? soalnya ini dilema satu menghadapi teman lintas program,satu sisi berhungan dengan program saya …..

  • Akmal Nasution

    Saya usul, penanganan anak kurang gizi, sebaiknya dimulai dari kondisi anak dalam indikator BB/U (gizi buruk) yg digunakan… tapi banyak pemilik kebijakan dalam penanganannya selalu berasumsi menggunakan indikator BB/PB (kurus/kurus sekali) baru dilakukan intervensi…katanya sih..hal itu sudah standar WHO dan Kemenkes…yg saya tanyakan..apakah hal itu sudah benar atau haruskah kita menunggu si anak menjadi kondisinya parah baru ditangani…???
    kalau menggunakan indikator BB/U (seperti yg dilakukan Mbak sri setyo)…saya kira itu sudah tepat…karena tugas kita (TPG di puskesmas) menangani anak kurang gizi di mulai dari indikator BB/U tsb…artinya kita intervensi sebelum kondisi si anak menjadi lebih parah…

    • lina

      klu menurut sy bukan hanya anak gizi buruk apakah itu dgn mengg. indikator BB/U atau BB/PB(TB)yg sudah harus diintervensi tp semua anak gizi kurang harus diberikan PMT Pemulihan dan gizi buruk harus dirawat dipuskesmas/RS, cuma sy ingin menanyakan apakah dana BOK & Jamkesmas yg ada skrg bisa digunakan untuk biaya transport rujukan balita gizi buruk ke Puskesmas/RS serta biaya perawatannya selama diPuskesmas/RS????mohon jawabannya!!!!

    • Dit. Bina Gizi

      Terimakasih atas perhatian Bapak Akmal Nasution terhadap milis kami. Kami sangat ber-apresiasi atas segala perhatian dan usulannya. Usulan Bapak cukup baik, sebetulnya program gizi dan penanganan gizi anak bukan dimulai dari kondisi anak dalam indikator BB/U, namun jauh sebelum itu, ketika si anak masih dalam janin kita sudah coba menanganinya. Si Ibu ketika hamil kita perhatikan gizinya, makanya ada gizi ibu hamil, gizi ibu nifas. Intervensi kita terhadap ibu hamil, ada PMT ibu hamil, ada pemberian Tablet tambah darah dsb. Pak Akmal Yth. Mungkin Bapak menyadari bahwa fungsi Posyandu salah satunya adalah untuk deteksi dini keadaan gizi anak. Ketika anak 2x tidak naik berart badannya, kita harus merujuknya atau kita berikan penyuluhan dan MP-ASI itu intervensinya. Jadi tugas kita, apalagi bapak sebagai ujung tombak sebagai tenaga gizi Puskesmas, mengaktifkan Posyandu, meningkatkan cakupan D/S, sehingga sebelum anak gizi kurang sudah kita atasi. Demikian juga yang status gizinya kurang di Posyandu walaupun dengan indikator BB/U kita sudah intervensi dengan penyuluhan atau pemberian MP-ASI sehingga anak tidak akan jatuh ke gizi buruk. Sebenarnya kalau sistem kita jalan, Posyandu jalan dengan baik, orang mau datang ke Posyandu. Insya Allah masalah gizi akan tertangani dengan baik. Terimakasih pak Selamat bertugas.

  • NENI

    sy setuju dgn pendapat sdr lina bahwa penanganan gizi buruk jgn lagi membedakan apakah indikator BB/U atau BB/TB, bahkan sejak sasaran sudah masuk gizi kurang (BB/U) sudah harus mulai diperhatikan ato dimonitoring tiap bulannya. Karena bila sdh masuk kategori gizi buruk apalagi dgn gejala klinis dan harus dirawat ke rumah sakit….wah sdh tambah berat n mahal biayanya.Apalagi kebanyakan penderita gizi buruk berasal dari keluarga kurang mampu…syukur2 dapat bantuan jamkesmas/jamkesda tapi bagaimana dengan biaya transport sehari-hari dan kebutuhan lainnya bagi keluarga yang menjaganya di rumah sakit??? ini kan tdk masuk dalam tanggungan. makan sehari-hari pun susah. Hal ini lah yang menjadi salah satu kendala kenapa sebagian penderita gizi buruk tidak mau dirawat di rumah sakit….bahkan keluarganya sengaja menyembunyikan keadaan anaknya dan tidak mau ke posyandu

    • Dit. Bina Gizi

      Terimakasih juga kepada Ibu Neni atas urun rembuknya. Di beberapa daerah, ada yang menggunakan Jamkessos atau Jamkesda (Biaya APBD) untuk membantu keluarga penderita gizi Buruk.

  • titin herdiana

    mohon info data terakhir…prevalensi osteoporosis di Indonesia,trims

  • joni saputra

    saya mau tanyak, bisa tidak tampilin tabel data gizi buruk di indonesia tahun 2007 s/d 2010?

    • Dit. Bina Gizi

      Terimakasih Sdr. Joni Saputra atas perhatiannya kepada Web kami. Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2007 dan 2010, kita bisa melihat prevalensi masalah gizi (Gizi buruk, kurang, pendek, kurus dan gemuk) seperti terlihat dalam grafik yang ada (terlampir). Perlu kami informasikan bahwa selain gizi kurang dan buruk, masalah kegemukan juga perlu diperhatikan. Sesuai permintaan Sdr. Joni Saputra dibawah ini tabel Prevalensi Status Gizi kurang dan buruk hasil Riskesdas tahun 2007 dan 2010 sbb :

      PREVALENSI STATUS GIZI KURANG+GIZI BURUK BERDASARKAN PROPINSI, HASIL RISKESDAS 2007 DAN 2010.

      PROVINSI PREV (%)
      2007 2010
      NAD 26,5 23,7
      Sumut 22,8 21,4
      SumBar 20,2 17,1
      Riau 21,4 16,2
      Jambi 18,9 19,6
      SumSel 18,3 19,9
      Bengkulu 16,8 15,3
      Lampung 17,5 13,4
      BaBel 18,3 14,9
      KepRi 12,4 14,0
      Jakarta 12,9 11,3
      Jabar 15,0 13,0
      Jateng 16,1 15,7
      DI Yogya 10,9 11,2
      Jatim 17,5 17,1
      Banten 16,7 18,5
      Bali 11,4 11,0
      NTB 24,8 30,5
      NTT 33,6 29,4
      KalBar 22,5 29,1
      KalTim 24,3 27,6
      KalSel 26,6 22,9
      KalTim 19,3 17,1
      SulUt 15,7 10,6
      SulTeng 27,6 26,5
      SulSel 17,6 25,0
      SulTera 22,8 22,8
      Gorontalo 25,4 26,5
      SulBar 25,4 20,5
      Maluku 27,8 26,2
      MalUt 22,8 23,6
      PapBar 23,1 26,5
      Papua 21,3 16,2
      INDONESIA 18,4 18,0

      • vivi

        saya sedang mencari data gizi buruk riskesdas 2010 sulawesi tengah (khususnya Kota Palu) mohon bantuannya

  • Nancy

    Saya mau tanya…
    apakah tingkat sosial ekonomi keluarga penderita, tingkat pendidikan ibu penderita dan jumlah anak yang dimiliki oleh ibu tsb ada hubungan dgn keberhasilan/kesembuhan balita gizbur yang dirawat di TFC? mohon penjelasannya

  • haphap

    ass,
    saya tanya,
    untuk buku petunjuk pelaksanaan cfc/pos gizi sendiri apakah depkes mengeluarkannya?
    kira-kira bagaimana saya dapat memiliki buku tersebut?
    untuk bahan referensi skripsi saya,
    trimakasih

  • Bayu

    aslm. saya mau tanya apa ada pedoman pelaksanaan pos gizi?
    saya mau minta PDF nya untuk melengkapi data skripsi saya.
    terima kasih.
    By the way websitenya bermanfaat!

  • ina

    aslm..
    sy mau tanya apakah pada bayi < 6bln yang mengalami gizi kurang boleh kita intervensi dgn pemberian MP-ASI? untuk diketahui ibunya masih menyusui,BB hanya naik 100gr dlm sebulan,kemudian sy jg mau tanya apa ada pedoman pelaksanaan pos gizi?kalau ada mohon dishare..trima ksh

    • Administrator

      1. Pemberian PMT pemulihan bagi balita usia 6 – 59 bulan dengan gizi kurang, untuk Bayi kurang dari 6 bulan tidak kita intervensi dengan pemberian PMT Pemulihan, namun dengan ASI eksklusif, maka dari itu yang menjadi focus adalah cara/teknik pemberian ASI dari Ibu yang perlu diperbaiki.
      2. Pedoman pelaksanaan pos gizi dapat mengunjungi website : http://www.pdrc.or.id

  • atiek tri arini

    Saya praktisi kesehatan, ingin bertanya apakah gizi kurang boleh diberikan mineral mix, klo boleh berapa dosis pemberiannya dan referensi yang bisa jadi acuan, terima kasih

    • Dit. Bina Gizi

      Terimakasih kepada Sdr. Arini Wijayanto atas atensinya kepada website kami. Perlu kami jelaskan bahwa mineral mix di dalam registrasi Badan POM dikategorikan sebagai Obat. Mineral mix digunakan sebagai bahan campuran pembuatan Formula WHO (Formula 35, Formula 100 dan Formula 135), dan pembuatan Formula Resomal (Rehidration Solution for Malnutrition). Resomal dan Formula-formula tersebut digunakan untuk pengobatan anak gizi buruk. Bila gizi kurang, boleh diberikan dalam bentuk Formula 100. Referensi cara pembuatan Formula WHO bisa dilihat pada buku II Petunjuk Teknis Tatalaksana Gizi Buruk, halaman 20 untuk cetakan tahun 2007. Mudah-mudah bermanfaat.

  • Dian Muti

    saya mahasiswi,,sy mau bertanya sebenarnya standar Pemberian Makanan Tambahan -Pemulihan untuk KEP balita (gizi buruk ) itu apa?
    ada cara lain tidak bagi penderita KEP tsb yang jauh dari tempat pelayanan kesehatan untuk melakukan pemulihan sendiri?

    • Dit.Bina Gizi

      Kami mengucapkan terimakasih atas perhatiannya terhadap milis kami. Sehubungan dengan pertanyaan Sdri Dian Muti dapat kami jelaskan sebagai berikut:
      Sebelumnya kami ilustrasikan, seseorang dengan gizi buruk/kurang, biasanya dikategorikan menjadi 3 kategori. Pertama: Gizi buruk dengan penyakit ringan/berat; Kedua Penyakit berat dengan gizi kurang; Ketiga penyakit ringan dengan gizi kurang. Kategori pertama sebaiknya dirawat inap (Penerapan 10 langkah dan 5 kondisi Tatalaksana Anak Gizi Buruk) sembuh – pulang – Pemulihan di Pos Pemulihan Gizi  dilanjut di Rumah.
      Kategori kedua  sebaiknya dirawat, diobati penyakitnya dan penambahan energi protein 20-25% dari Angka Kecukupan Gizi sembuh – pulang – Pemulihan di Pos Pemulihan Gizi  dilanjut di Rumah.
      Kategori ketiga  bisa rawat jalan dengan mengobati penyakitnya dan pemberian makanan sembuh – pulang – Pemulihan di Pos Pemulihan Gizi  dilanjut di Rumah.
      Standar pemberian makanan  Makanan yang diberikan sesuai kondisi anak gizi buruk yang diberikan pada fase Stabilisasi, fase transisi dan fase rehabilitasi.
      Pada fase stabilisasi biasanya berbentuk cairan F75 (Formula 75 yang terbuat dari Susu gula minyak ditambah mineral mix). Pada fase transisi juga masih berbentuk cairan bisa diberikan F100 (Formula 100). Fase rehabilitasi bisa F-135 (Formula 135) ditambah dengan makanan bayi/lumat dan sari buah. Dan kemudian secara bertahap akan beralih kepada makanan biasa sesuai kebutuhan tubuhnya.
      Selanjutnya pertanyaan yang sangat baik : Adakah cara lain bagi penderita KEP tsb yang jauh dari tempat pelayanan kesehatan untuk melakukan pemulihan sendiri?
      Sdri Dian, sebaiknya harus dirujuk dulu ke petugas kesehatan di Puskesmas. Dan biasanya sebelum pulang petugas akan mengajarkan bagaimana cara membuat Formula F75, F100 atau F135 dengan bahan dasar Susu, gula minyak dan mineral mix. Ibu balita penderita gizi buruk akan bisa melakukannya di rumah sendiri. Bahkan petugas mempunyai beberapa resep untuk PMT – pemulihannya. Demikian, mudah-mudahan jawaban saya bermanfaat untuk Sdri Dian. Terimakasih.

  • Sausan

    Sebetulnya grafik KMS itu yang menetapkan siapa, maksudnya penambahan BB bayi rentangnya sekian tiap bulannya itu berdasarkan teori siapa, sebelumnya terimakasih banyak

    • Dit.Bina Gizi

      Kami mengucapkan terimakasih atas perhatiannya terhadap milis kami. Terkait pertanyaan Saudari Sausan dapat kami jelaskan sebagai berikut: Grafik KMS ditetapkan berdasarkan Rujukan pertumbuhan yang dikembangkan oleh World Health Organization (WHO). KMS baru dibuat berdasarkan standar pertumbuhan yang berasal dari sampel anak-anak dari enam (6) Negara yaitu : Brazil, Ghana, India, Norwegia, Oman dan Amerika Serikat. WHO Multicetre Growth Reference Study telah dirancang untuk menyediakan data yang menggambarkan bagaimana anak-anak harus tumbuh, dengan cara memasukan kriteria tertentu (misalnya : menyusui, pemeriksaan kesehatan dan tidak merokok). Penelitian tersebut mengikuti bayi normal dari lahir sampai usia 2 tahun, dengan pengukuran yang sering pada minggu pertama. Kelompok anak-anak lain umur 18 sampai 71 bulan, diukur satu kali. Data dari kedua kelompok umur tersebut disatukan untuk menciptakan standar pertumbuhan anak umur 0 – 5 tahun.
      MGRS menghasilkan standar pertumbuhan yang bersifat preskriptif (bagaimana anak seharusnya tumbuh optimal), berbeda dengan rujukan sebelumnya yang bersifat deskriftif (gambaran bagaimana anak tumbuh). Standar baru meperlihatkan bagaimana pertumbuhan anak dapat dicapai apabila memenuhi syarat-syarat tertentu misalnya pemberian makan, imunisasi dan asuhan selama sakit. Standar ini dapat digunakan di seluruh dunia, karena penelitian menunjukkan bahwa anak-anak dari negara manapun akan tumbuh sama bila gizi, kesehatan dan kebutuhan asuhannya dipenuhi. Demikian, mudah-mudahan Sdr Sausan faham dengan penjelasan ini. Terimakasih.

  • sri setyo

    sampai skrg keg.kelas gizi di pusk.jenangan alhamdulillah masih berjalan, walaupun kadang hanya separo yang datang pada saat kegiatan, artinya mereka yang mau datang saya menilai sudah menyadari akan pentingnya penyuluhan. la skrg ini saya juga mengalami dilema lagi mengenai kegiatan program gizi yaitu dalam hal pojok gizi, memang ada perdanya tapi kadang mau mengucap dan memberi bukti kwitansi administrasi sesuai perda saya kok merasa gimana gitu…..menghadapi masyarakat itu bener2 harus jeli lo dan melihat sikon yg ada, masyarakat skrg sebagian besar belum menyadari klo kesehatan itu bkn hanya perawat ato dokter saja yg bisa memberi tindakan dan obat, akhirnya ya ga tak gunakan perda itu….stlh selesai memberikan motivasi yaaaa mendoakan semoga bermanfaat, dan bisa dipatuhi diitnya gitu aja, yang ingin saya tanyakan sbg petugas gizi kira-kira apa ya untuk meningkatkan eksisitensinya supaya sebenarnya gizi itu bagian dari kesehatan juga? dalam hal ini untuk meningkatkan kondisi balita yg mengalami gizi buruk pun kita sbg petugas gizi hanya punya modal omongan, pernah sy punya pengalaman ada anak 2T dibawa ke pusk.la tiba-tiba nyeletuh “mboten diparingi susu to bu ” haduuh la lgsg sy jg bingung njawabnya, akhirnyadari situ sy menilai masyarakat sebenarnya masih mengharapkan tindakan yg diberikan dari orang kesehatan/puskesmas setiap kali datang…shg sampai skrg saya masih bingung juga gmn menghadapi masyarakat …. mohon sarannya … mksh…

    • Dit.Bina Gizi

      Sdri. Sri Setyo, sebelumnya kami mengucapkan terimakasih atas perhatian dan kunjungannya ke website kami. Membaca tulisan Sdri. Sri Setyo, kami perlu berikan acungan jempol dan appresiasi karena Sdri. dapat mengengembangkan dan menghidupkan kegiatan kelas gizi di Puskesmas Jenangan, walaupun kadang hanya separo yang datang pada saat kegiatan. Bahkan menurut penuturan Sdri mereka yang mau datang dinilai sudah menyadari akan pentingnya penyuluhan. Berarti sedikit banyak ilmu pengetahuan yang Sdri miliki sudah Sdr transfer kepada masyarakat.
      Terkait masalah yang Sdri anggap dilematik yaitu dalam hal pojok gizi bahkan ada perdanya – sebetulnya bisa Sdri laksanakan sesuai Perda yang ada. Namun hal ini bisa Sdri bicarakan dengan pimpinan.

      Untuk meningkatkan eksisitensinya sebagai seorang petugas gizi, Saran kami Sdri bisa meningkatkan pengetahuan dan kemampuan bidang gizinya pertama, yang kedua kuasai program yang ada di Puskesmas secara menyeluruh. Apakah Sdri pernah dilatih tentang Tatalaksana anak gizi buruk?? Kalau pernah tentunya ilmu yang dimiliki bagaimana cara membuat Formula F75, F100, F135 dan resep-resep masakan untuk fase rehabilitasi bisa diterapkan dalam meningkatkan status gizi masyarakat di wilayah Sdri., bisa menjadi tambahan bekal dalam memberikan “omongan” – Nasehat gizi yang sangat bermanfaat untuk masyarakat. Tentunya dengan keikhlasan Sdri dalam memberikan nasehat.
      Selanjutnya tentang pengalaman ada anak 2T dibawa ke Puskesmas, tiba-tiba nyeletuh “mboten diparingi susu to bu ” haduuh la lgsg sy jg bingung njawabnya”. Seharusnya Sdri tidak perlu bingung, bukankah ada MP-ASI untuk intervensi anak 2T. Apakah dana BOK (Bantuan Operasional Kesehatan) belum sampai ke Puskesmas Jenangan. Padahal dana BOK, bisa digunakan untuk PMT penyuluhan dan PMT pemulihan untuk balita 6-59 bulan dengan gizi kurang. Pengalaman ini bisa dibicarakan pada minilokakarya dengan Pimpinan. Pelajari atau baca kembali pedoman Bantuan Operasional Kesehatan. Selain itu MP-ASI Sdr. bisa dimintakan ke Dinas Kesehatan setempat. Dinas Kesehatan bisa meminta MP-ASI buffer stock ke Pusat, selama persediaan masih ada akan dikirim. Demikian penjelasan kami, atas perhatian Sdri Sri Setyo kami ucapkan terimakasih. Selamat bekerja, mudah-mudahan enggak bingung lagi. Terimakasih.

  • yuli

    langkah apa yang harus dilakukan bila ternyata angka stunting pada balita cukup tinggi di suatu daerah? menurut teori kan stunting berhubungan dengan penurunan IQ sekian point.

  • haris

    Saya adalah TPG di salah satu Pusk. Perawatan yg ada TFC nya yg ada di kab. Lobar NTB. saya sering menangani balita gizi buruk di TFC yg kami punya dan alhamdulillah setelah beberapa minggu bahkan hampir satu bulan kami tangani kondisinya jadi lebih baik (kenaikan BB dan status gizi ada peningkatan). Kami melakukan penanganan gizi buruk dengan Protap mengacu pada Pedoman Tata Laksana Anak Gizi Buruk.Setelah px kami pulangkan, kami menganjurkan untuk datang kontrol ke puskesmas seminggu sekali (bulan I), dua minggu sekali (bulan kedua), sebulan sekali (bulan ketiga), dan selanjutnya kontrol tiap bulan lewat kegiatan posyandu. Tapi ada yang sulit rasanya bagi kami (tim asuhan gizi buruk yg ada di puskesmas kami), yaitu apabila gizi buruk yg disertai dengan kelainan bawaan atau kalau boleh dibilang gagal tumbuh kembang…kami rasanya sudah maksimal dalam hal penanganan (baik gizi maupun medisnya)…kami merasa gagal dalam hal seperti ini karena px tetap saja tidak ada perubahan baik status gizi maupun kesehatannya….mohon saran maupun masukan buat kami….terima kasih sebelumnya.

  • nurma

    apakah manfaat pemberian mineral mix? apakah boleh mineral mix dimasukkan k susu? mengingat anak tdk suka susu dan tdk ada dana. Terimakasih

  • nurma

    apakah manfaat pemberian mineral mix? apakah boleh mineral mix dimasukkan k sayur? mengingat anak tdk suka susu dan tdk ada dana. Terimakasih

  • ahmadunal

    tolong kirimkan kartu menuju sehat yang berisi kurva berat badan dan tinggi badan

  • dinarika

    apakah boleh mineral mix diberikan untuk anak sd usia kurang dari 12 th mengingat stok mineral mix banyak sekali?

  • agustina

    mohon diberi informasi:
    menurut WHO 2005 istilah gizi buruk sudah tidak ada lagi. adanya gizi sangat kurang ( untuk indikator BB/U < -3 SD ). alasannya kenapa ya? ( maaf saya mengikuti pelatihan ini tapi fasilitatornya kurang jelas menjelaskannya).
    sedangkan Kemenkes tahun 2011 juga meneribtkan buku Penatalaksanaan Gizi Buruk.
    apa itu tidak konsisten?

Pencarian

Aplikasi

BOK

Dokumentasi Kegiatan

Link to Dokumentasi KegiatanLink to Dokumentasi KegiatanLink to Dokumentasi KegiatanLink to Dokumentasi KegiatanLink to Dokumentasi KegiatanLink to Dokumentasi KegiatanLink to Dokumentasi KegiatanLink to Dokumentasi KegiatanLink to Dokumentasi KegiatanLink to Dokumentasi Kegiatan

Referensi

Jumlah Pengunjung

Ganti ke versi mobile